Pemerintah Sri Lanka bersikukuh menyatakan bahwa keluarga Prabhakaran tewas dalam pertempuran yang sama dengan penyergapan pemimpin pemberontak Macan Tamil, Velupillai Prabhakaran. Namun jenasah istri dan putrinya tak pernah ditemukan.
| |
| apa yang dilihatnya? apa yang didengarnya? |
![]() |
| apa yang dipikirkannya? apa yang dirasakannya? |
Kurang dari dua jam kemudian, 12.01, anak lelaki itu telah terbaring di tanah dengan lima lubang peluru di dadanya.
Image Data Analysis menyebutkan bahwa foto-foto tersebut diambil dengan kamera yang sama. Para ahli juga menyatakan bahwa Balachandran ditembak dari jarak dekat.
Callum Macrae, sutradara No Fire Zone, berujar, "The new photographs are enormously important evidentially because they appear to rule out any suggestion that Balachandran was killed in cross fire or during a battle. They show he was held, and even given a snack, before being taken and executed in cold blood."
Semua pemimpin politik Tamil dan aktivis HAM bereaksi keras atas foto-foto eksekusi Balachandran. Foto bocah mati dengan lima lubang peluru telah keluar beberapa bulan lalu. Namun yang membuat hal ini menyedihkan adalah tambahan dua foto yang menunjukkan Balachandran sedang mengunyah camilan sesaat sebelum dia ditembak mati. Ini mengindikasikan bahwa anak ini ditahan tentara sebelum kematiannya.
"It is difficult to imagine the psychology of an army in which the calculated execution of a child can be allowed with apparent impunity. That these events were also photographed and kept as war trophies by the perpetrators is even more disturbing."
Pernyataan Macrae di atas membuatku membandingkannya dengan dokumentasi yang lain. Di Libya, foto Moammar Khadafi ditembak ketika telah ditangkap. Di Indonesia, foto-foto hari terakhir dan eksekusi Kartosoewirjo (di Majalah Detik edisi Kartosoewirjo). Jasad Velupullai Prabhakaran, ayah Balachandran, pun diperlihatkan di televisi pemerintah untuk menguatkan klaim pemerintah bahwa perang sipil selama 26 tahun telah berakhir dengan tewasnya pemimpin pemberontak. Mungkinkah pendokumentasian seperti ini memang jamak dalam kondisi konflik?
Dan aku masih tak henti berpikir, kenapa Balachandran harus dieksekusi? Apa dosa dan kesalahan anak 12 tahun tersebut, sehingga dia dianggap layak menerima hukuman sekeji itu?
DEMI TUHAN, DIA HANYA ANAK KECIL!





