21 Februari 2013

Balachandran Prabhakaran

Dokumentasi jam-jam terakhir Balachandran Prabhakaran telah mengguncang dunia. Foto-foto yang dirilis dalam film dokumenter No Fire Zone memaksaku mempertanyakan kemanusiaan di Sri Lanka kala itu.

Pemerintah Sri Lanka bersikukuh menyatakan bahwa keluarga Prabhakaran tewas dalam pertempuran yang sama dengan penyergapan pemimpin pemberontak Macan Tamil, Velupillai Prabhakaran. Namun jenasah istri dan putrinya tak pernah ditemukan.

  
apa yang dilihatnya? apa yang didengarnya?
apa yang dipikirkannya? apa yang dirasakannya?
Dalam foto yang diambil pada 19 Mei 2009 pukul 10.14 terlihat Balachandran dalam kondisi hidup dan sehat sedang duduk di bunker sambil makan snack.

Kurang dari dua jam kemudian, 12.01, anak lelaki itu telah terbaring di tanah dengan lima lubang peluru di dadanya.

Image Data Analysis menyebutkan bahwa foto-foto tersebut diambil dengan kamera yang sama. Para ahli juga menyatakan bahwa Balachandran ditembak dari jarak dekat.

Callum Macrae, sutradara No Fire Zone, berujar, "The new photographs are enormously important evidentially because they appear to rule out any suggestion that Balachandran was killed in cross fire or during a battle. They show he was held, and even given a snack, before being taken and executed in cold blood."

Semua pemimpin politik Tamil dan aktivis HAM bereaksi keras atas foto-foto eksekusi Balachandran. Foto bocah mati dengan lima lubang peluru telah keluar beberapa bulan lalu. Namun yang membuat hal ini menyedihkan adalah tambahan dua foto yang menunjukkan Balachandran sedang mengunyah camilan sesaat sebelum dia ditembak mati. Ini mengindikasikan bahwa anak ini ditahan tentara sebelum kematiannya.

"It is difficult to imagine the psychology of an army in which the calculated execution of a child can be allowed with apparent impunity. That these events were also photographed and kept as war trophies by the perpetrators is even more disturbing."

Pernyataan Macrae di atas membuatku membandingkannya dengan dokumentasi yang lain. Di Libya, foto Moammar Khadafi ditembak ketika telah ditangkap. Di Indonesia, foto-foto hari terakhir dan eksekusi Kartosoewirjo (di Majalah Detik edisi Kartosoewirjo). Jasad Velupullai Prabhakaran, ayah Balachandran, pun diperlihatkan di televisi pemerintah untuk menguatkan klaim pemerintah bahwa perang sipil selama 26 tahun telah berakhir dengan tewasnya pemimpin pemberontak. Mungkinkah pendokumentasian seperti ini memang jamak dalam kondisi konflik?

Dan aku masih tak henti berpikir, kenapa Balachandran harus dieksekusi? Apa dosa dan kesalahan anak 12 tahun tersebut, sehingga dia dianggap layak menerima hukuman sekeji itu?

DEMI TUHAN, DIA HANYA ANAK KECIL!

15 Januari 2013

Hakim Agung Bagi Pemerkosa

Muhammad Daming Sunusi mengeluarkan pernyataan kontroversial saat uji kepatutan dan kelayakan calon hakim agung di hadapan anggota Komisi III DPR RI, Senin (14/1/2013) kemarin. Menanggapi pertanyaan anggota Komisi Hukum mengenai hukuman mati bagi pemerkosa, Daming mengaku tak sependapat jika pemerkosa dihukum mati. Alasannya, "yang diperkosa dengan yang memperkosa, sama-sama menikmati".

 Setelah mengeluarkan seloroh tersebut, Daming beralasan dia hendak mencairkan suasana. Buktinya, ada anggota dewan yang tertawa.

Reaksi keras bermunculan, terutama dari kalangan pemerhati perempuan dan anak-anak. Mulai jurus berkilahnya. Daming mengaku tegang hingga keceplosan mengucapkan candaan menjijikkan tersebut.

Hari ini ucapannya beda lagi.

#orang ini tidak pantas jadi hakim agung di NKRI#

9 Januari 2013

kecelakaan pejabat

Tahun 2013 belum genap sepuluh hari, kita disuguhi dua kecelakaan yang menyedot perhatian banyak orang. Kenapa? Karena aktor utamanya tidak jauh dari pemerintahan yang sedang berkuasa.

DAHLAN ISKAN


Uji coba mobil listrik Tucuxi yang dikemudikan sendiri oleh pak Dahlan, mengambil rute Solo-Magetan lewat Tawangmangu. Alasan pak Dahlan untuk menguji kehandalan mobil yang digadang-gadang dijadikan mobil nasional ini.

Keputusan mengambil jalan sulit ini bisa jadi benar atau salah. Menjadi benar, karena ternyata benar terbukti bahwa rem ferari ala Dahlan Iskan tidak lolos ujian. Dari keterangan pak Dahlan, beliau terpaksa menabrakkan mobil itu ke tebing karena rem blong. Dianggap mengambil rute salah, karena kecelakaan ini menimbulkan masalah. Mulai dari ijin uji coba di jalan, "nopol", sampai dari perakitannya.

RASYID RAJASA


Dari nama belakangnya semua tahu dia keluarga siapa. Tepatnya Rasyid ini putra bungsu bapak Hatta Rajasa, besannya pak SBY. Karena keluarganya, kecelakaan yang menewaskan dua orang ini disorot intens khalayak. Maklum, orang awam faham betul karakter hukum yang tumpul ke atas.

#Berharap tulisan semua sama di mata hukum adalah benar.#

2 Januari 2013

Niat

Aku pengen nulis lagi. Setelah blog gratisanku di friendster hilang, aku niatkan diri untuk menulis lagi.

Okay..... Bismillah......

*mikir mo nulis apa*